Dr. Robert S. Hartman menyatakan
bahwa nilai merupakan suatu fenomena atau konsep dan nilai apapun yang
ditentukan oleh sejauh mana untuk memenuhi maksud dan maknanya. Dimensi nilai
selalu disebut sebagai konsep nilai intrinsik, nilai ekstrinsik dan nilai
sistemik. Empat dimensi dalam nilai matematika yaitu nilai makna, nilai
keunikan, nilai tujuan, dan nilai fungsi.
Blog ini berisi Refleksi Online yang merupakan tugas mata kuliah Matematika Dasar 2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Sumber: www.powermathematics.blogspot.com
Selasa, 18 Juni 2013
REFLEKSI "Elegi Pemberontakan Para Sombong"
Sombong merupakan sifat tercela
yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Kita dapat dikatakan sebagai orang yang
sombong apabila memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, suka membangkang,
takabur, dan bangga kepada diri sendiri secara berlebihan. Tetapi sombong dapat
bermanfaat apabila kita menempatkannya pada situasi yang tepat, seperti yang
terdapat pada tulisan di atas, yaitu menolak ajakan teman untuk melakukan
perbuatan maksiat. Maka sombong yang demikian sangatlah bermanfaat, karena
menghindarkan kita dari perbuatan Syaitan yang terkutuk.
REFLEKSI "Elegi Pemberontakan Para Etik dan Estetika"
Dari artikel di atas dijelaskan
bahwa etik adalah mengenai benar dan salah, sedangkan estetika adalah mengenai
baik dan buruk. Secara Epistemologis adalah salah jika kita bertindak tanpa
mengetahui hakekat atau konsep yang kita lakukan. Tetapi secara etik dan
estetika, adalah benar jika anak kecil bertindak sesuai dengan petunjuk atau
arahan dari orang tuanya, walaupun anak kecil itu tidak mengetahui konsepnya.
Etik dan estetika tertinggi adalah etik dan estetika absolut yaitu etik dan
estetika milik Allah swt. Manusia hanya mampu berusaha menggapainya saja. Maka
kita harus senantiasa berdoa dan memohon petunjuk Allah swt.
REFLEKSI "Elegi Menggapai "Foundation of Mathematics Education: The Guru of Ernest"
Dari artikel Elegi Menggapai "Foundation of Mathematics Education: The Guru of Ernest", dapat diketahui bahwa terdapat tiga hal mengenai fondasi matematika yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Seperti yang telah disampaikan oleh Paul Ernest (1994) mengenai berbagai pertanyaan terkait pendidikan matematika, sehingga memunculkan gagasan bahwa fondasi pendidikan matematika menyajikan pembenaran untuk mendapatkan status dan dasar untuk pendidikan matematika, yaitu dalam hal ontologi, epistemologi dan aksiologi.
REFLEKSI "Elegi Menggapai Matematika Yang Tidak TUNGGAL"
Dari artikel yang berjudul “Elegi Menggapai Matematika Yang Tidak TUNGGAL”, dapat disimpulkan bahwa agar matematika tetap konsisten maka matematika tidak dapat menjadi tunggal. Itulah sebabnya, sekarang ini tidak mungkin diperoleh kesepakatan mengenai hakekat atau definisi matematika yang tunggal. Menurut plato, obyek ilmu (matematika) itu berada di dalam pikir. Sedangkan menurut aristoteles, obyek ilmu (matematika) itu berada di luar diri pikiran. Menurut Plato, Matematika adalah absolut, ideal, absrak dan bersifat tetap. sedangkan aristoteles mendefinisikan matematika sebagai pengalaman. Oleh karena itu, selalu saja minimal ada dua pendapat tentang hakekat matematika. paling tidak mereka adalah platonism di Perguruan Tinggi dan Aristotelian di sekolah.
REFLEKSI "Elegi Menggapai "Ideology of Mathematics Education: What are they thinking?"
Dari artikel di atas, dapat
diketahui bahwa ideologi pendidikan matematika mencakup radikal, konservatif,
liberal, dan demokrasi. Perbedaan ideologi pendidikan matematika dapat menyebabkan
perbedaan pada pengelolaan dan pengembangan. Menurut Ernest (2007), terdapat
empat komponen terhadap identifikasi dari ideologis pendidikan matematika.
Pertama, ada rekonseptualisasi pengetahuan dan dampak dari etos manajerialisme
dalam komodifikasi dan fetishization pengetahuan. Kedua, ada ideologi
progresivisme dengan fetishization atas gagasan kemajuan. Ketiga, ada komponen
lebih lanjut dari individualisme yang selain mempromosikan kultus individu
dengan mengorbankan masyarakat dan membantu untuk mempertahankan ideologi
konsumerisme. Keempat adalah mitos standar universal dalam penelitian
pendidikan matematika, yang dapat mendelegitimasi strategi penelitian bahwa
etika forground atau tindakan masyarakat lebih dianggap 'pantas' dalam hal riset
tradisional.
Langganan:
Postingan (Atom)